Pekutatan, 2 September 2023 - Pada Sabtu pagi yang cerah dan tenang, Desa Adat Pulukan kembali memancarkan keindahan budayanya melalui upacara sakral yang dikenal sebagai "Mendak Tirtha Kamandalu". Dalam perjalanan yang penuh rasa bakti, warga desa ini berjalan kaki dari Pura Kahyangan Puseh menuju Pantai Pekutatan.
Upacara Mendak Tirtha Kamandalu adalah salah satu perayaan yang merayakan kesucian air suci yang digunakan dalam berbagai upacara keagamaan di desa ini. Kata "Mendak" dalam bahasa Bali berarti "mengelilingi", sementara "Tirtha Kamandalu" mengacu pada wadah yang berisi air suci. Dalam runtutan Karya Ngenteg Linggih, prosesi ini bsebagai medium pemurnian dan kesucian, ke dalam tempat pemujaan. Ini melambangkan usaha untuk membersihkan dan menyucikan lingkungan pemujaan, sehingga tempat tersebut menjadi tempat yang layak untuk beribadah kepada Tuhan. Penggunaan air dari sumber-sumber alam ini mengingatkan umat Hindu akan hubungan yang dalam antara manusia, alam, dan spiritualitas. Ini juga mengingatkan mereka untuk menjaga dan melindungi alam sebagai bagian dari tugas mereka sebagai pemelihara alam.
Upacara ngenteg linggih bertujuan untuk menghadirkan Tuhan ke dalam tempat pemujaan yang disucikan. Penggunaan tirtha kamandalu dalam prosesi ini adalah bagian dari usaha untuk mengundang kehadiran spiritual Tuhan ke dalam tempat tersebut, sehingga para pemuja dapat merasakan kedekatan dengan-Nya saat beribadah.
Dalam keseluruhan prosesi upacara ngenteg linggih, filosofi tirtha kamandalu menekankan pentingnya pemurnian, kesucian, hubungan dengan alam, dan kedekatan dengan Tuhan dalam praktik agama Hindu. Hal ini menggambarkan komitmen untuk menjaga tradisi dan nilai-nilai agama Hindu yang kaya sambil meresapi makna spiritual dalam setiap tahap upacara.